Mengapa Adab Didahulukan Sebelum Ilmu dalam Islam?
Dalam tradisi Islam, ilmu selalu ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Namun para ulama sejak dulu mengingatkan bahwa ilmu tidak akan membawa kebaikan jika tidak dibarengi dengan adab. Karena itulah, dalam pendidikan Islam dikenal satu prinsip penting: adab didahulukan sebelum ilmu.
Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan sebaliknya. Jika ilmu justru melahirkan kesombongan, merasa paling benar, atau meremehkan orang lain, maka ada yang salah dalam proses menuntut ilmu tersebut.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
(QS. Fathir: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran orang berilmu dalam Islam bukan banyaknya pengetahuan, tetapi rasa takut dan tunduknya kepada Allah. Ketika ilmu melahirkan ketakwaan, di situlah ilmu menjadi hidup. Sebaliknya, jika ilmu tidak membuahkan adab dan akhlak, maka ilmu itu belum benar-benar memberi pengaruh pada hati.
Rasulullah ﷺ pun menegaskan tujuan utama risalah Islam melalui sabdanya:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini mengingatkan bahwa akhlak adalah inti dari ajaran Islam. Semua ilmu syariat yang dipelajari sejatinya bermuara pada perbaikan sikap, perilaku, dan hubungan manusia dengan Allah serta sesama.
Karena itulah para ulama sangat menekankan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Imam Malik رحمه الله pernah berpesan agar seorang penuntut ilmu mempelajari adab terlebih dahulu sebelum memperdalam ilmu. Bahkan Abdullah bin Mubarak رحمه الله mengatakan bahwa mereka belajar adab jauh lebih lama dibanding belajar ilmu itu sendiri.
Pernyataan ini bukan untuk meremehkan ilmu, tetapi justru untuk menjaga kemuliaannya. Ilmu yang disertai adab akan mudah diamalkan, menenangkan hati, dan membawa manfaat. Sedikit ilmu dengan adab sering kali lebih berharga daripada banyak ilmu tanpa akhlak.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahaya menuntut ilmu tanpa adab dan niat yang benar. Beliau bersabda bahwa orang yang belajar hanya untuk berbangga diri, mencari popularitas, atau memenangkan perdebatan, maka ilmunya tidak akan menyelamatkannya. Hadits ini menjadi peringatan agar ilmu tidak dijadikan alat kesombongan, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam dunia pendidikan Islam, terutama di pesantren, adab selalu menjadi perhatian utama. Santri dibiasakan menghormati guru, menjaga lisan, bersikap rendah hati, dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Semua itu dilakukan agar ilmu yang dipelajari benar-benar membawa kebaikan dan keberkahan.
Pada akhirnya, mendahulukan adab sebelum ilmu bukan berarti mengurangi pentingnya ilmu. Justru dengan adab, ilmu akan tumbuh dengan benar, menetap di hati, dan memberi pengaruh nyata dalam kehidupan. Inilah warisan pendidikan Islam yang telah dijaga oleh para ulama dan layak untuk terus dilestarikan hingga hari ini.
